Tuesday, January 1, 2013

Tahun Baru Keluarga Kecil Kami :D

"Mau merayakan kedatangan tahun baru dan merasakan tahun nya juga atau hanya merayakan kedatangannya saja?"

itu pertanyaan yang dilontarkan ayah saya kepada kedua anaknya.

"maksudnya?" adik saya sudah melontarkan pertanyaan yang masih tersemat dipikiran saya dan belum sempat dikeluarkan.

tak sedikit hal-hal yang tidak diinginkan terjadi saat malam pergantian tahun. seperti kecelakaan di jalan raya misalnya. mereka hanya dapat merayakan kedatangan tahun baru, tapi tak sempat mencicipi tahun tersebut.

secara ga langsung beliau melarang kami untuk melalak (baca : keluyuran) di malam tahun baru. tetapi orang tuaku selalu punya cara untuk membuat anaknya betah berada di rumah


Alhasil malam tahun baruan dirumah malah lebih seru, bareng kaluarga. lebih banyak makanan, gratis plus plus laah pokoknya :)







bapak semangat bakarnya :D

Happy new year 2013... smogga kita semua jadi insan yang lebih baik dan bisa memperbaiki apa yang salah ditahun-tahun sebelumnya. amin.

Saturday, December 22, 2012

Dear : God

When I open my eyes every morning, I just say one word.
When I go home from anywhere every day, I just ask one call.

That word and that call is “Mom” :’)

Tuhan, Entah bagaimana caranya bersyukur.
Aku masih tabu akan hal itu, kemewahan ini begitu megah.
Sampai sampai rasa terimakasihku belum mendekati makna syukur.

Walaupun begitu, biarkan mama lebih lama menemani hidupku Tuhan.
Hingga nanti aku benar-benar sudah mampu untuk kehilangannya.
Walaupun waktu itu sebenarnya tak akan datang, karena aku tak akan pernah mampu untuk itu.





Selamat hari Ibu, Ma.
Tetaplah disini lebih lama, agar aku lebih mengerti arti bersyukur akan kehadiranmu.

Senyum Manis Ridho

Cerpen terbit di Batam Pos Minggu, 28 Agustus 2011
Oleh Junaini Krisnawati

komen dari fb xpresi Batam Pos


“Pokoknya aku pasti bisa berbuat lebih daripada apa yang dilakukan sama Sisy” bentak Cici, gadis berambut lurus sebahu yang sedang kesal dengan seorang temannya bernama Sisy. Kemarahannya itu dilampiaskannya kepada seorang temannya yang kini juga berada di kamarnya tepat berdiri di sebelah kirinya. Teman di sebelahnya yang kerap di sapa Rere itu terus mengelus-elus pundak temannya yang sedang kesal itu. Sepertinya Rere mengerti dan hafal betul dengan sifat Cici yang gampang naik darah itu.

“Sudahlah Ci, apa gunanya kamu terus-menerus mengungkit masalah yang kecil itu,” Rere mulai memberanikan diri dan angkat bicara.
“Ngga bisa Re, Sisy itu udah melecehkan aku. Di mana harga diri aku, tadi di sekolah seolah-olah dia menjadi orang paling dermawan dengam memberi sumbangan panti asuhan lebih besar dari yang aku berikan,” Cici semakin menggebu-gebu. Mendengar hal tersebut Rere hanya menghela nafas panjang. Rere memang sudah lama bersahabat dengan Cici semenjak ia masuk SMA N 88 tahun lalu.
”Kalau tahu Sisi menyumbang 50.000, aku pasti bakalan nyumbang 100.000... huuufhh!” Cici masih sangat kesal karena merasa ada yang menyainginya untuk menyumbang ke panti asuhan. Kegiatan bakti sosial ini diadakan oleh sekolah mereka yang rutin setiap bulan Ramadan seperti sekarang ini.

Indiyana Temanku, Antara Ada dan Tiada

Cerpen terbit di Batam Pos Minggu, 19 Juni 2011
Oleh Junaini Krisnawati
komentar dari fb Xpresi Batam Pos

“Hallooowww...! Malam Fresh Audience semuanya. Apa kabar?? Semoga semuanya baik-baik aja yaaa. Malam-malam gini enaknya ditemenin sama Isna di Fresh Radio for you! Jam menunjukkan lima menit lepas dari pukul delapan malam, Isna bakal nemenin Fresh Audience sampai pukul sepuluh nanti, Tentunya di Nadi, Nada Indonesia. Sebelum para Fresher nge-request nada-nada Indonesia, Isna pengen muterin satu nada suara Indonesia dulu, di depan udah ada Geisha with Cinta dan Benci. Fresher stay tune terus di 80.8 Fresh Radio for you!”.

Suara seorang gadis yang kerap disapa Isna itu mengudara dari ruang siaran yang hanya berukuran dua meter kali dua meter. Isna biasa siaran antara pukul 8 hingga pukul 10 malam karena siang hari gadis berusia 19 tahun itu disibukkan dengan kegiatan perkuliahannya di kampus. Malam itu hujan turun sederas-derasnya menambah dingin suasana ruangan siaran Isna yang sudah dilengkapi dengan AC. Hal itu membuat perempuan berjilbab, berparas manis dan memiliki lesung pipit di kedua pipinya itu mengurungkan niatnya untuk pulang ke kost lebih awal. Tetapi, begitu hujan mulai mereda dan memberinya kesempatan untuk keluar ruangan maka Isna langsung bergegas keluar seraya menenteng tasnya dan langsung mencari angkot yang melewati kostnya.

Begitu sampai  di kost Isna bukannya buru-buru untuk istirahat tapi malahan dia bergegas membuka laptopnya dan langsung menuju ke alamat emailnya. Baru-baru ini Isna memang memiliki seorang teman bernama Indi tetapi belum pernah ia jumpai. Mereka hanya saling bertukar pikiran melalui email. Katanya temannya ini adalah seorang perempuan sebayanya yang berasal dari keluarga berada tetapi kurang mendapatkan perhatian oleh orang tuanya. Malam itu Isna mendapati  email masuk dari Indi yang berisi :